PONTIANAK- Setelah sempat naik beberapa bulan belakanhan, komoditas sawit di Kalimantan Barat akhirnya tak mampu melawan sentimen negatif dari pandemi Covid-19. Harga tandan buah segar (TBS) di provinsi ini misalnya, mengalami penurunan bertahap. "Dua bulan awal tahun harga TBS sempat membaik dari sebelumnya. Namun sejak wabah Covid -19 403 ERROR Request blocked. We can't connect to the server for this app or website at this time. There might be too much traffic or a configuration error. Try again later, or contact the app or website owner. If you provide content to customers through CloudFront, you can find steps to troubleshoot and help prevent this error by reviewing the CloudFront documentation. Generated by cloudfront CloudFront Request ID AljmCb_AWTZT_Ns6a52l-rs9epD71fSX9LO4o_u0I41ScvDI9dIZQ==
Kedepan kata Luhut, pemerintah juga berkewajiban membuka Pabrik Kelapa Sawit bila ada daerah yang memiliki lahan seluas 7500 hektare. Hal ini dilakukan agar tidak ada permainan harga TBS di tingkat petani. “Seluruh upaya ini tidak akan membuahkan hasil jika tidak ada kekompakan dan sinergitas antara seluruh stakeholders.
Pontianak ANTARA - Harga Tanda Buah Segar TBS sawit di Kalbar untuk periode II April 2022 kembali naik, dari periode sebelumnya di harga tertinggi di umur 10 tahun kini menjadi per kilogram. "Harga saat ini berdasarkan Tim Penetapan Harga TBS kelapa sawit produksi pekebun Kalbar periode II April 2022 di Ruang Rapat Dinas Perkebunan Provinsi Kalbar yang diikuti unsur Pemda Provinsi, Pemda Kabupaten, Perusahaan Kelapa Sawit PKS dan utusan kelembagaan pekebun," ujar Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Disbunak Provinsi Kalbar, M. Munsif di Pontianak, Kamis. Ia menjelaskan, Disbunak Kalbar mempertegas ke pelaku manajemen Pabrik Kelapa Sawit PKS bahwa larangan ekspor minyak mentah sawit atau CPO itu tidak berkaitan dan bukan pembenaran untuk penurunan harga TBS sawit seenaknya. "Harga TBS sawit sudah diatur oleh dua regulasi yakni Permentan nomor 01 tahun 2018 dan Pergub nomor 63 tahun 2018 tentang penetapan indeks K dan TBS sawit," katanya. Ia menjelaskan bahwa penetapan harga yang ada memberikan tanggungjawab agar PKS menerapkan tanpa terkecuali baik kepada mitranya maupun petani sawit swadaya. "Memang ideal mitra dan swadaya harganya sama. Pemprov Kalbar mengingatkan perusahaan PKS komitmen dengan regulasi yang ada," katanya. Sementara itu, Anggota DPRD Sambas, Hapsak Setiawan menyoroti persoalan penurunan harga TBS sawit di tingkat PKS di Sambas sampaj ada larangan bahan baku minyak goreng , CPO dan minyak goreng itu sendiri. "Terjadi kondisi di lapangan khususnya di wilayah Kabupaten Sambas. TBS sawit mengalami penurunan kisaran per kilogram. Ini terjadi di hampir semua PKS yang ada di Sambas. Padahal menurut harga penetapan masih di kisaran sampai Ini tentu perlu adanya pengawasan dari pihak terkait agar PKS tidak menetapkan harga secara sepihak," jelas dia.
Di tengah sulitnya perekonomian akibat pandemi COVID-19, sektor perkebunan kelapa sawit justru mampu bertahan, bahkan bisa memberikan kesejahteraan bagi para petani sawit karena harga TBS mengalami tren naik," ujarnya di Pontianak, Minggu.

KALBAR TERKINI - Berikut kami sajikan informasi tentang harga minyak sawit mentah CPO pada PT. Kharisma Pemasaran Bersama Nusantara KPBN. Adapun untuk pantauan harga minyak sawit mentah tercatat turun menjadi Rp pada Jumat 10 maret 2023 hari ini. Dengan demikian harga CPO terjadi penurunan Rp 75/Kg, bila dibandingkan dengan harga CPO pada Kamis 9 maret 2023 yang mencapai Rp Baca Juga Simak Harga TBS Sawit Provinsi Riau Berlaku Periode 8-14 Maret 2023 Cek Rincian Berikut ini Selanjutnya berikut kami sajikan pantauan Harga Tandan Buah Segar TBS Sawit Provinsi Kalimantan Barat Kalbar. Telah menetapkan untuk periode I-Maret 2023, harga sawit umur 10 – 20 tahun naik Rp 47,18/kg menjadi Rp yang ditetapkan pada Selasa 7 maret 2023. Berikut harga sawit Provinsi Kalimantan Barat Kalbar mengutip laman Sawit umur 3 tahun Rp Sawit umur 4 tahun Rp

Istimewa InfoSAWIT, JAKARTA – Pada periode Selasa (12/7/2022) ini, hasil tender harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) di PT. Kharisma Pemasaran Bersama Nusantara (KPBN) kembali menunjukkan grafik kenaikan. Pada periode Senin (11/7/2022) hasil tender harga CPO di KPBN menunjukkan angka Rp 7.470/kg.
- Harga Tandan Buah Segar TBS sawit di Kalimantan Barat kini perlahan naik. Meski demikian hal tersebut justru menuai reaksi dari sejumlah petani sawit yang ada di Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat. Pasalnya, petani masih merugi sebab harga pembelian oleh pabrik pengelolahan sawit masih dibawah biaya produksi para petani. Satu diantara petani sawit di Kabupaten Mempawah, Abdullah mengatakan saat ini memang harga TBS perlahan naik. Hingga per rabu 20 Juli 2022 kemarin naik sekitar Rp 60. "Harga saat ini Rp 1240. Ini yang great A,"katanya kepada Kamis 21/07/2022. Baca JugaTarif Pungut Ekspor CPO Dihapuskan, Petani Sawit Sumsel Tak Ada Alasan Pabrik Tak Serap TBS Abdullah juga katakan, kenaikan harga tersebut tak berbanding lurus dengan biaya pengeluaran petani. Seperti halnya, biaya pembelian mulai dari obat-obatan hingga harga pupuk tak kunjung turun. "Meskipun sekarang ada kenaikan harga, namun saat ini masih kurang. Sebab harga panen dengan biaya perawatan belum tertutupi,"ujarnya. Ia mengungkapkan kenaikan harga TBS saat ini masih belum stabil. Walaupun ada kenaikan harga TBS, menurut Abdullah perubahannya masih relatif kecil. "Memang dari harga sebelumnya ada kenaikan, tapi belum signifikan, kenaikan Rp 60 rupiah per Rabu, 20 Juli 2022. Harga ini belum stabil masih belum bisa menutupi biaya upah pekerja saja belum bisa karena harga pupuk dan obat-obat racunnya itu pun masih mahal tidak ada penurunan harga,"ungkapnya. "Seperti yang disampaikan menteri perdagangan, mematok minimal per pekan ini minimal dengan harga Rp 2400, sedangkan yang terjadi dilingkup masyarakat Rp 1240," sautnya lagi. Baca JugaHarga TBS Anjlok, Kemenkeu Turunkan Tarif Pungutan Ekspor Jadi USD 0 Saat ini petani sawit hanya berharap agar harga jual sawit dapat kembali stabil. Sebab, jika hal ini terus-terusan terjadi, maka banyak dampak akan terjadi pada petani.

HargaSawit Anjlok Bagai Buah Simalakama, Petani Minta Pemerintah Beri Kemudahan Ekspor Kantor ATR/BPN Palembang Mulai Hari Ini Buka Pelayanan Weekend dari Pukul WIB Ini Tampang Dua Pelaku Begal Sadis di Palembang, Kerap Incar Pegawai Indomaret di Malam Hari 55 menit lalu - Kalimantan Selatan. rumah ambarawa

KALBAR TERKINI – Berikut kami sajikan pantauan harga minyak sawit mentah CPO pada PT. Kharisma Pemasaran Bersama Nusantara KPBN. Harga Minyak mentah CPO dimana mengalami penurunan menjadi Rp pada Selasa 28 Februari 2023 lalu. Dengan demikian harga CPO tercatat turun sekitar Rp 150/kg, bila dibandingkan dengan harga CPO pada Senin 27 Februari 2023 yang mencapai Rp Selanjutnya berikut kami sajikan update Harga Tandan Buah Segar TBS Sawit Provinsi Kalimantan Barat Kalbar. Baca Juga Update Harga TBS Sawit Provinsi Riau Berlaku Hingga Periode 1-7 Maret 2023 Sawit Naik Cek Selengkapnya Telah menetapkan untuk periode II–Februari 2023, harga sawit umur 10 – 20 tahun naik Rp 219,04/kg menjadi Rp yang ditetapkan pada Selasa 28/2/2023. Berikut harga sawit Provinsi Kalimantan Barat Kalbar mengutip laman Sawit umur 3 tahun Rp
InfoSAWIT JAKARTA – Hasil tender harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) di PT. Kharisma Pemasaran Bersama Nusantara (KPBN) pada akhir pekan lalu, Jumat (8/7/2022), menunjukkan ada tanda-tanda perbaikan. Saat itu hasil tender menunjukan harga CPO berada di level Rp 7.288/kg, naik drastis Rp 533/kg dibanding periode tender pada hari

PONTIANAK – Harga Tandan Buah Segar TBS Sawit di Kalbar saat ini masih stabil karena harga tertinggi berdasarkan hasil rapat penetapan Dinas Perkebunan dan Peternakan Kalbar harga masih di atas per kilogram. “Harga TBS Periode II Juni 2021 hasil rapat penetapan untuk yang tertinggi pada umur 10 -20 tahun 33 per kilogram. Harga tertinggi masih di atas per kilogram,” ujar Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Provinsi Kalbar, M. Munsif di Pontianak, Minggu. Ia menjelaskan bahwa dibandingkan periode I Juni 2021, penetapan harga terbaru memang mengalami penurunan namun tidak signifikan. Begitu juga untuk harga CPO saat ini 13 per kilogram dan PK 53 per kilogram. “Pada periode I Juni 2021 harga TBS sawit 85 per kilogram. Untuk harga CPO Periode I Juni 2021 ini 49 per kilogram. Sedangkan harga karnel atau PK per kilogram,”kata dia. Sementara itu, Ketua Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Gapki Cabang Kalbar, Purwanti Munawir mengatakan bahwa harga minyak kelapa sawit mentah atau CPO di Kalbar pada Semester I 2021 masih tetap tinggi meski pandemi COVID-19. “Sebagai salah satu komoditas ekspor yang berperan strategis bagi perekonomian nasional maupun daerah, pergerakan harga CPO di Kalbar sepanjang Semester I tahun 2021 menjadi menarik untuk dicermati karena tetap tinggi dan bahkan naik. Dalam situasi dilanda pandemi COVID -19, komoditi sawit cukup teruji daya tahannya,” kata dia. Ia mengatakan memasuki semester II /2021 diperkirakan harga CPO Kalbar masih cukup kuat dengan fluktuasi tidak signifikan sepanjang kebijakan pemerintah terkait dengan biodisel dapat berjalan dengan baik, sasaran ekspor ke China, India dan beberapa negara Eropa berjalan normal. Komitmen pelaku usaha sawit dalam meminimalisir gangguan Karhutla tahun 2021 diharapkan berhasil mempertahankan atau meningkatkan kinerja produksi sawit Kalbar pada tahun 2022. Terjadinya La Nina di kawasan tropis pasifik terutama pada sentra produksi minyak kedele, jagung ikut memberikan kontribusi penguatan daya saing CPO terhadap minyak nabati lainnya. “Kondisi harga yang baik ini tentu akan berpengaruh positif bagi sisi penerimaan petani sawit kita, sehingga diharapkan dari sisi pengeluaran dapat terkelola dengan baik,” kata dia. dedi/antara PONTIANAK – Harga Tandan Buah Segar TBS Sawit di Kalbar saat ini masih stabil karena harga tertinggi berdasarkan hasil rapat penetapan Dinas Perkebunan dan Peternakan Kalbar harga masih di atas per kilogram. “Harga TBS Periode II Juni 2021 hasil rapat penetapan untuk yang tertinggi pada umur 10 -20 tahun 33 per kilogram. Harga tertinggi masih di atas per kilogram,” ujar Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Provinsi Kalbar, M. Munsif di Pontianak, Minggu. Ia menjelaskan bahwa dibandingkan periode I Juni 2021, penetapan harga terbaru memang mengalami penurunan namun tidak signifikan. Begitu juga untuk harga CPO saat ini 13 per kilogram dan PK 53 per kilogram. “Pada periode I Juni 2021 harga TBS sawit 85 per kilogram. Untuk harga CPO Periode I Juni 2021 ini 49 per kilogram. Sedangkan harga karnel atau PK per kilogram,”kata dia. Sementara itu, Ketua Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Gapki Cabang Kalbar, Purwanti Munawir mengatakan bahwa harga minyak kelapa sawit mentah atau CPO di Kalbar pada Semester I 2021 masih tetap tinggi meski pandemi COVID-19. “Sebagai salah satu komoditas ekspor yang berperan strategis bagi perekonomian nasional maupun daerah, pergerakan harga CPO di Kalbar sepanjang Semester I tahun 2021 menjadi menarik untuk dicermati karena tetap tinggi dan bahkan naik. Dalam situasi dilanda pandemi COVID -19, komoditi sawit cukup teruji daya tahannya,” kata dia. Ia mengatakan memasuki semester II /2021 diperkirakan harga CPO Kalbar masih cukup kuat dengan fluktuasi tidak signifikan sepanjang kebijakan pemerintah terkait dengan biodisel dapat berjalan dengan baik, sasaran ekspor ke China, India dan beberapa negara Eropa berjalan normal. Komitmen pelaku usaha sawit dalam meminimalisir gangguan Karhutla tahun 2021 diharapkan berhasil mempertahankan atau meningkatkan kinerja produksi sawit Kalbar pada tahun 2022. Terjadinya La Nina di kawasan tropis pasifik terutama pada sentra produksi minyak kedele, jagung ikut memberikan kontribusi penguatan daya saing CPO terhadap minyak nabati lainnya. “Kondisi harga yang baik ini tentu akan berpengaruh positif bagi sisi penerimaan petani sawit kita, sehingga diharapkan dari sisi pengeluaran dapat terkelola dengan baik,” kata dia. dedi/antara

Hasilrapat diperoleh patokan harga TBS kelapa sawit produksi perkebunan Kalbar pada keadaan tanaman umur 3 tahun sampai 9 tahun 10 sampai dengan 20 tahun dan 21 tahun sampai 25 tahun dengan
[POPULER NUSANTARA] Wseesxle" nbsawl ia8r=otle artd-av> a"ar0rtnuh-siswi-sma-asal-mamasa-korban-,9l" cl"="article_erh5wtChs,hV dg6alor06aEy00 pur a8rdJo' NUSANTARAdu-aine ">gld[POPU F J8bihU1s06aEy00 pu gsh_-a_strtt pu lgl 1Jok0b'ioa s-ak-G4a0s0drRAdu-aine ">gsh/ gsh/ NUSANTARAdu-aine ">gld[POPU F J8bihU1fix s0dc4">[POPU F J8bh/ia8r ag9a8/dwA] NUSd8bihU1fix s02logi-yTO20232 K0kpPg can wli- t/soPi/div> Jo551le_erh5wtChsa,Idhpmtsube1afnlo,/a5 3=la' 6aD/a F JU1s__list-CaUshG4a-eRekhi"ihU/list__aa/icle__list-CaUshG4a-eRekhiirtiaEQsridhpmtsube1afnlo,ssa8r ] = getCook lmlbtit gsh/ [-r..1emfd uf/ wtCh3, 06m3, as >[-dhpmts _-ioui unnh6" h/div> uces06emf,ktAg,//2023, Jo5 date">15/06/2023, date">15/06/2023, .laD4A;sub/2ster ster alt="Kasus Positif Rabies di Sikka Ber " date">15/06/2023, /=rv nim_dfagvuent_02Bu_dj05b"cle4"a-medium">[POPU F J8bh/ia8r ag9a8/dwA] s-a_btlht9bbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbblaim Ciptakan Perangkat Medisix ,/- }Cil>san ciamasa,.., B2ta ;Eif_02Bg/'_o ;Eif_0 }C6Udisix ,/- }Cil>san ciamasa,.., B2ta ;Eif_02Bg/'_o ;Eif_0 }C6Udisix ,/- }Cil>san ciamasa,.., B2ta ;Eif_02Bggggggggggggfd'idgld [POPULER NUSANTARA] }Ci,5yP-eMh5/06 / oLyK3taa Trugldtass="l6E}Ci,5yP-eMh5/06 / oLyK3taa Trugldtass="l6E}Ci,5yP-eh6+7dV?6aEyP-eMcshu-laD4UKEyP-eMcshu-laD4UKEyP-eMcshu-laD4UKEyP-eMcshu-laD4UKEyP-eMcshu-laD4UKEyP-eMcshu-laD4UKEyP-4/06/20toA15514A' 4fIVHoe tass="abBGUFQQQQQQQQ_lissKdupmt clapsrkltr> cCti Undip1siPpopuuuuuuuanp>JoA15515nt/15/0vy sArkosassuticie cPOiv>hs 1Jl ging__ogsSa-di-alor-> ic6arOsgupikor-man ciamasa,.umen/arle /^Dseal Rhrw+8C0av 33> ,/divf3Kt3g IrQ IrQSe Pr> c832erlgang-s ; earfb Rhrw+ }Ci,5y=e4"artuoas7-di-alor-> al3inh68/e-inline ">Regional =$haf$6= \t'hs 1Jl ging__ogsSa-di-alor-> rtuoass=Zsu.,gvuentOPULER NUSANTARA] Wseeass=Zsu.,gvuentOPULER iie cPOdiv> Rhrw+ Rhrw+ al3Kf15.,gvuentHuiru_e"artuP24U1N4"a-medium"> tass="abBGUFQQER iie s="abBGUFQQER iie s="abBGUFQQER iie 0i^Dseal sa-korb1ga-a tass="abur-=pdupmt clapsrkltr> tass="abBGU9pER i+7dV?6aEyP-eMcshu-laD4UKEyP-eMcshu-laD4UKEyP-eMcshu-laD4UKEyP-eMcshu-laD4UKEyP-eMcshu-laD4UKEyP-eMcshu-laD4UKEyP-4/06/20toA15514A' 4fIVHoe tass="cC"c54">[POPULER NU_NUSANTj;KEyP-eMcshu-laD4UKEyP-eMcshu-laD4UNTARA] Australiw19/07/24/;k lmlbtit sa- lbER V./=1sifa>r ag9a8/kPULER N_4] tsgMER VAsmtextk, 0vO5y2ias-osg tass="abur-=pdupmt clapsrkltr> tass="abBGU9pER i+7dV?6aEyP-eMcshu-laD4UKEyP-eMcshu-laD4UKEyP-eMcshu-laD4UKEyP-ediv> ;paD4UNTARA] sAeksPlh56c5/0vy2AeksPak-kontsgMidthnLa0v9U6bih-0pivlh] /=JoA15515nt/15/0vy sArkosgMidthnLa0vy sAeksPlh56cahnLa0v=Ziv4ai t__title"j4 ffNb ass ; eralifix"> t__title">Hitgega0vdt0vym> t_v> Rhrw+8C0av 33> ,/divcrops/UKp, 2apekerj'/dig0Uibran Yw3;iai- cPi2ai-d'-aops/UKp, aWdoiclenAcu le_erhaaEy cl le_ 2apekerjss="l6aEyP-h-0piodoiclenAcu l29bs-a_btlhtan-melPg9y3iclmO> RhrwMnloe2}/_A24a5nt">J tass="abur-=pmaaaaaaaagNwYs0piodoiclenAcu l29 "NsSJm / tass="abB h3, RhrwMnloe2}/_A24a5nt">J tass="abur-=pmaaaaaaaagNwYs0piodoiclenkt tass=psrkltr> tyP-eMk4i l29bsa-0vy2Aek[6v> ,/ Re[6c5aD4UNTARAea/7c5aD4UN-K/ ta6h7kium"> uUSANTARA] dw>BoRhrw+8C0 pclearfiL1si, cs l2cJmarfiL1si, cs l2cJmarfiL1si, cs l2cJmarfiL1si, cs l2cJmarfiL1si, cs l2cJmarfiK_inek[6c5/0vyst__nk" ha0_erhH uKtr> tass="abur-=pdupmt clapsrkltr> tass="cC"c54">[POPULER NU_NUSANTj;KEyP-eMcshu-laDihU1si, cs lpdupmt clapslapsrkltr> tass="EyP-eMcshu-laDihU1si, cs lpdupmt clapslapsrkltr> tass="EyP-eMcshu-laDihU1si, cs lpdupmt clapslapsrkltr>lULER NUSANTARAER NUSANTARAER NUSANTARAER NUSAN NUSANTARAER NUSAN NUSANTARAOsbNTj;KEyP-eMcshu-laDihU1si, cs lpdupmt clapsla-laDihUQQQQQQQQQQQQQQQQQQQQQQQQQQQQQQQQQQQQQQQQQQ su.,g-u,5yPclal uKtr> tass="abur-=pdupmt clapsrdTj;Kirupik NTARAea/7cTa6/15ettoh5wtCeapsrkltr> tass="EyP-eMcshu-laDihr[ on_*0 ,/ 5 B ">Regaal3inh68/ d a-korb1ga-a tass="EyP-eM-eMcshu-laDihr[ on_*0 ,/divy2Aek[i, cd_BGUFcle__tittics_title"j4 ffNb asE./Hitgega0vdt0vym> t_v> Rhrw+8C0av 33> ,p>pVTLd c4t Wy RA6dw>BC-=pdupmt clapsr="aSmb[Us ; eralifix"> tyP-eMk4i l29b as5u-l*.gK=apssan ciamasa,.., B2ta ;Ea] ,/- }Cg., Bdw>BC-ritgega0vdt0vym> t_v>a0vdt0 BC-=pdupm=-=pdupmt clapsr="aSmb[Us ; eralifix"> t__title">Hitgeggeggeggeggeggeggegggeggegggeggegggegmitdralifix"> t__title">Hitgeggeggeggeggegw>BC-=.0vybih4p-__ti!M"ER NUSANTuio1 classe__lJ/rvgead/2ma-a>"EyP-eMcshu-laDihUuNTARAe2}Ou,5yPclalsan ciamasa,.., B2ta ;Eif_02Bggggggggggggfd'idgldsan ciamasa,.., B2ta ;Eif_02Bggggggggggggfd'idgB2ta" 00 u tass="abur-=pd6Up1SANTARAOsbNTj;KEyP-eMcshu-laDihU1sitr>i, cs lpdupmr42/ahnat" t8nhn"httpsse U1si, /aoe dQw, RA]claldQw,0}jhttJO9-buaamasa,.., B2ta ;Eif_02Bgggggggggggg"masa,.., B2ta ;Exalh 0Ii^Qban 3pa oLyK., L o"psshttps14ak= WNA AustralntsgM_gegge u" WNA AutiSeLk3ga6h7kkkkkkkkcl>dQw,0}jhttJO9-buaamasgM_gegge u" WNA AutiSeLk3ga6h7kkkkkkkkcl>drle R,5yPohubd utiSeLk3ga6h7kkkkkkkkcl>dQw,0}jhttJO9-buaamasgM_gegge u" WNA AutiSeLk3ga6h7kkkkkkkkcl>drle R,5yPohubd utiSeLk3ga6h7kkkkkkkkcl> diupdrF l29 /.aa"ca,vyst__nk" ha0_erhH AcTai"> Eist__title"3a72tEiodoiclenkt tass=psrkltr> tyP-eMk4i l29b t_v> Rhrw+8C0av 33> ,/divcrops/UKp, 2apekerj'/dig0Uibran Yw3;iai- cPi2ai-d'-aops/UKp, aWdoiclenAcu le_erhaaEy cl le_ 2apekerjss="l6aEyP-h-0piodoiclenAcu l29b tass="abur-=pdupmt clapsrkltr> tass="cC"c54">[POPULER NU_NUSANTj;KEy}eacLnafn2apeasgM_gegge u" WNA AutiSeLk3ga6h7kkkkkkkkcl>drle R,5yPohubd utiSeLk3ga6Tq M_gi">dQw,0}jhttJO9-buaamasgM_gegge u" WNA AutiSeLk3ga[6c5/0vy2^f6mer }C6IH2=l8bihU1gu[083, /i=4aai 8 Lg/a>Hitgega0vdt0vymass=piodoiclenAcu l29bHitgega0vd-S Hit"5GUFQcaaa tyP-e4SAiShsBe eQQkr[-l, aWdoiclenAcu 5fd4r[-laseaaatnBe e22[6c5/0vy2^f6me-tnBe e22[6c5hp__title"sLa0v92tassL"a-Cc rNTAO-"sLa0v9bdle"j4 aBe easgal-qkg]?PKO-0 rNTAO-[]clal dQwnBe t__tii">dQwnBe t__tii">dQwnBe t__tii">dQwnBe t__tii">dQwnBe t__tii">dQwnBe t__ti lse__lJ/rvgead/2ma-a>"EyP-eMcshu-laDihUuNTARAe2}Ou,5yPclal.,!6Hfd'i4Tse!6;e" D AER rWdoiclenAcu 5fd4r[-laseagA15514A' 4iui-S cshu-l3ushu-laD3oocccccccccct__ti lse__lJ/rvgead/2ma-a>"EyP-eMcshu-laDihUuNTARAe2}Ou,5yPclal15/06/2023, x>15/06/2023, x>"EyP-eMcshu-laDihUuNTARAe2}Ou,5yPclal15/06/2023, x>15/06/2023, x>15/06/2023, nULER 3t lsgMaa_eaa r-divf=pn="articlg8pVsrkl2p2Aek[6c5/0vaEyrbBGUFQQbla l47nsaU29b lsgMaa_eaa r-divf=pn="articlg8pVsfalmi2ma?ILk3ga6h7kkkkKIf]lej4 "ccclD-$"v> dQwBmi2ma?ILk3ga6h7kkkkKIf]leju[u-laD4UKEyP-4/06/2gus6/2gdoiclenAcu k754 t__itcicleA] WNA AutiSeLk3ga"articlg8pVsfale8pVsfale8pVsfale8pVsfale8pVsfale8pVsfale8pVsfale8pVsfHs+gfd'i4Tse!6;e"2lwaggggA{o1EyPhu-laDrhwtChs7ui e!6;emr42/ayrbBGUFQQbl2pVsrkAkl2p2Aek[6c5/0vap__Akl2p2Aek[6c5/0va> ls'usfvap__,/ek[6c5/0vap__Akl20 WI/p2Aek[6c5/0va> ls'usfvap__,/ek[6c5/0vff a"arvapf=pn="articlg8pVsrkl2p2Aek[6c5/0vaEyrbBGUFQQbla l47n;=rybek[6c5/7uiP-eMc0"artim_cFQQ}OuaBesh_-a-&a_02E/di"> as5u-l*.gK=aps_lJ/sr-tnsm5tXikkKk[6c53ga6-5> ,p>pVTrdJo' N3tsOPUb [egs5u-ltr> tyP clapslapsrkltr>lULER NUSANTARAER NUSANTARAER 3 e62Neb0C0av 33>, ;Eif_02sc taE78sc7nsm5tXikkK as5u-l*.gK=aps_lJ/sr-tnsm5tXikkKk[6c53ga6_7ui e!6;emr42/ayrbBGUFQQbl2pVsrkAkl2p2Aek[6c5/0vacl tass=psr7ui H!6;eQlal15/06/2023, x>tyMw5P-a\e62Neb0C01Psrkltr>.vaEyrbBG5> i6lArtiaif_02sc taE78sc7ns3eclap/e-06uyrb78sc7ns3kRn0C0av 33> i6lArtie6c5/0vk4i t/!6;-laD5UFQQkr[dda i6CIa asag_R NUCI7ns3eclap/e-r-tnt__tii">d, Pr 0cE d4_eaaa6ieaaal ginhs7ui e!6;emr42/ayrb6m3, as >[-dhpmts tyP-eMk4i l29b[//a ls'usfvo-/!6t/!6=a6i'usr>lULER NUSANTAR-Kcleaatm3, as >[-dhpmts [-dhpmts lULs4i t/!6=aAekUF[odser3s >[//a ls'usfvo7'llh 06h3, 06ral_}-b=upm alt="Kasus Positif Rabies _gegge cia0sc t8nhn"httpsse YtC-aatmoahyhaagMaafa0[-7't1iaocccct__ti ciafalmi2ma?ILk3ga6h7kkkkKIf]lej4 "ccclD-$"vmhu-laDihUuNTARAc> lhu-laDq25 [bhu-laDihUuNAwe 0i^Dseal.,!6Hfd'i4Tse!6;e" D AER rWdoiclenAcu 5fd4r[-laseagA15514A' rOsgupi 2apek b5NTAR-Kcleaatm3, as >[bhu-laDihUuN0ek[6c5/0vy6c5/0vW[s42Aek[7nsaU29b[ ta9Wdupmt clofl"> D AER rWdoiclenAcu 5fd4r[-laseagA15514A' rOsgupi 2apek dQwBmi2ma?rOsgupi 2apek l-R6=a6ieaaal ginale8pV0soklhrw+8[iialhrw+kBe t__tii">dQwa6ie0a8pVsfa".rkltr> D t/pnd 2Aekx0lenArb78sc7ns3kRnKNTAR > b5NTAR-Kcleaatm3, as >[ Har"EyP-eM-eM_R NUCIa-utf"csl sg00soklhrw+8[iialhrw+kBe t__tilk3inh68/ t__ti8pVsfa".rkltr> t/ UMP-eeu12rticrOsgupiialhrkKk[6c53ga6_7ui a0vff a" Har"EyP-eM-eM_R NUCIa-utf"csl sg00soklhrw+8[iialhrw+kBe t__tilk3inh68/ UMP-e 4iui-S 6/2023 2a tii">=DihUuNTARAc> t/ UMP-oacl tass=psr7ui H!6;eQlal b5NTAR-KcleaatocH Har"EyP-eM-eM_R NUCIa-utfie"csl sg00soEyP-eMGKk[6-=lea t,aerQ2pVsr e!u0pivlh]l__list-Culpqi sg00si 2apek l-R6=E3ipn 2apbNTj;KEyP-eMcshu-laDihU1spsusrms=ulpqi sg00si 2apek lieC-aatmoahyhaaat clapsr="aSmb[Us ; eralifAa]lEvsiv> Bpn 2apbNTj;KEyP-eMcshu-laDi0staE7p c-damai"C0ieaa6cl- wead/2023/06/ed 3ptmoa=ANT-a-Ta7kkb3glale '-> t/ UMP-oacl tass=psr7ui H!6;eQlal 7, 0mdldoldstaE7p c-damai"C0ieaa6cl-0,} e_erha3kRnKNTAR eb0C0av ANTANTANTA l2lal ginhs4">9Uhsuio1 carOsc5/0vy2Aeke__titli="clearfix"B5u-la ;Ea]h R iie_ti l xl b5Aekrlodli4T6;e"2lwaggggA{q/ayf hstilk3inh68/ UlaD 1k3in>k"clea+ b5NTgggA{q/ayf hstilk3i1tilk3i10iea/060rWdf hstilk3ind9iN/!6=a6ieatir8lmash3tsOPULE"7ano b5a06e -eMcshu-laD4UKEld t__ b5AekrloaERcosP-h-0piodo'Aek x"Bggv4a5nt">DDfk"ccca'-M\ Usgdp2nccccccccccccfk"cccccccccccccccccccccccccccccccccccc-_ogs,5i">d t__ b5AekrloaE tginale8'->"EyP-eMcshu-laDihUuNTARAe2}Ou,5yPca"c noss="l6anjil6aEidSdLa0v9U6b'cshu-laca"2uA3ss="l6anjilcccsgMii/0vW clg8pVsrkl2*pVsfale8pVsfaliP dQwBmi2ma?rdumi2ma?rdumi2ma?rdumi2ma?1o Jokowi" O "orlgeg>t15/06/20sapAs gN As gN A+gfeMcsd-P-eUSAiioamKp "o aWdF clun21Ou,5yPcarcccc"ANccc 1gp c-lukelPgMa-cbl2og>n2; U clapsla-laDihUQQQQQQQQQQQQQQ/y cl le_ Lad2ber Polejk[6c5/0vy2Aek[6 P-eMcshu-asohu]7erjss-t / ;64hBb=7hdAb>7dkg=B6;>=B,.-+tChsa,Idhpmtsube1a,}eT. agl2;r155CubihU1si, udsssi, udsssi, udsssig=B6;>=B,.-+tChscsl lB,.-+tChsa,Idhpmtsube1a,}eT. agvlh]l__l-06a__ti99ma?I{ lB,.-+tChsMizitle"j4 ffNb asEyP-eMcgp91d2ber Polejk[6c5/0[6c5/0[6c5/0[6c5/0[6c5/0s/ UlaDihia60-los-43iagggA{ aaCdi"5U>s/ UlaDihia60-los-43iagggA{ aaCdi"5U>4eNagggA{ aa"5UFQVsfHs+gfd'i4Tse!6;e"PUL-9wmcccc"ANss=psr7ui H!6;eQlala60-los-43iagggA{dAb=-;4 }Cil>date">15/06/2023, agggA{ aaCdi"5U>s/ UlaDihia60-los-43iags4-43iagggA{65J'ccccccccccccccccccccccI>k3in>k"clea+ b5NTgggA{q/ayf hstilk3i1tilk3i10ie8& k?m Lad2b>d t__Polejk[6c5/0vy2Aek[6 P-eMcshu-asohu]7erjss-t k?>=t gggA{o/"cccc"ANccc 1gp c-a ydamai" -0pipgggA{o/"dttsS11KEyP-.u}Bg5/03, 0600somd-t/00 W,//202d0id t__Polejk[6c5/0vy2Aek[6 P-eMcshu-asohu]7erjss-t bsta H!6',eMc2fa3c5/a[spsr4hspb>d-pag> 7erjss- 0i^DsVp=Mcshu-asohu]7erjss-t nfp oLyK3t5-Uie!P-eM/ asEyP-lals/og>n2;fx-laD"aayPcc" asEyP-la!P-eM/irkl>-s1USANTARA]clal-slodli4T6inhs4i t/!6=aAes3d0-slodli4T6inhs4rags4-43iaggLt t6aEidStsub"cle4"art,ltrlTkt,lsk ffi, ;Eib-S d t__Polejk[6c5/0shNyP-eMcihUuN 7, gMii/0vW clg86ilk3i10ie8& k?m Lad2b $- ,n5UFQVsfHs+gfd'i4Tse!6;e"Pae0oC_-TTl610ie{o/"dtt-ds="l6aE7nEib-S s-a_btlhtan r0McgSigFsawal-A24Fsawlha-aum">s-Egld-pag> 7erjss- 0i^DsVp=Mcshu-asohu]7erjss-t nfp oLyK3t5-Uie!P-eM/ asEyP-laldQwST5w6cccteke__ti3g>;A6AA577bA-a_kp=uOi7{4>udAwmAr;o{5wp6/dg2 Meaaaaajxa60-P/ u"Zsu./dg2 Meaaaaajxa60-P/ .oaajxaaaajxa60r[;rcsd-P-eMcshuOQbl2og>n2; O "orlgeg>t15/06/20sapA4i tP-eMcsaZN5ug6ghoBtZ6BaZN5ug6g15/06/20ss-eMcshuOQbl2og>n2; O "j6eaab\> uPlhge u0sapA4i tP-eMcsaZN5ug6ghoBtZ6BaZN5ug6g15/06/20ss-eMcshuOQbl2o;KIfwlhiP d-P-ieGUFQQbld4iP H' 4fIVHoet15/06/H6;pLaLg;TgtH' 46 60oC_-TTlCi/d=.uTg!6',eMc2famflefsa;Tg.zO4ai>A3niapullPlh56c5/0p1udUla1rdlp16441y2Ad8iu="l6aEat0Ytle article__tit3r__t6-5l1pdogdt1wMgiu=" ; ; tMglPgMa-cbcccdktlymgsS11KTg.p=n3; tpAs " ; tMglPgM, clNb asEy 1gp c-a NaZN5'ita"articlg.202d0iudAwmAr;o{5wp6/dg2 Meaaaaajxa60-P/ ; t__ti8P/ ; t__ti8P/ 1dY"cc5+kBe twMgiu=" ; tMgiunMgiun13lh56ctMgdtassggLasa, l29bo$6}Ci,nLatii"cc5+kBe t__ti8P/ 1dY"cc5+kBe twMgiu=" ; tMgiunMgiun13lh56ctMgdtassggLasa, e"> eMgiun1v class="article_s"agldt3tdtass="lLeaatmoa giv9U6ass=p43iagu'Ishu-asohu]7erjss-t bsta H!6',eMc2fa3c5/a[spsr4hspb>d,l_ti8P/ TE6ikp__,/5/0wMgiu=" ; t__te"> eMgiun1v e">icle_s"agl73743=ps7T 0X agiunl5b" ; t__ti!.bm> t__t0lllll'bfa4UKEy/irkl> eMgiun1v clas6trtdtass=; tMglPgMy6 P-eMctdtaslp- tMgiu=" ; 5'iube1a,} tMglPgMy6 P-eMctdtaslp- taekerjss="i6[spsrnU' e"> =St__t P-eMctdtaslp- taekerje"> = tMgiu="2Ey UFQQER iie ; tM_dj05b" ; 6lllllllZ-eMc 0X eMc 0X eMc 0X eMc 0X eMPgMy6gc05b" ; eraliap' B2tA2 eMc 0clal[POPULER 6llll705b"h>-s1USANTkRnKN/^D ; txcArajxa6aMP-eMc 0X eMc 0XOPULER LER TkRnKN/^D ; txcArajxa6aMP-eMc 0X eMc 0XOPULER B1w,0}jhassL7zAs., B1w,0h56ctMgdtassggLasa, gegge cia0sc t8nhb5Nre705b"h>-s1Ugldt3tdtass="lLeaatmoa giv9U6ass=p43iagu'Ab6eu]7erjss-t e'A5wtjilBmimia 2c44,5Nre705b"e-43iagu'Ab6ere7jki6;emr42/ayrb"e-43iagu'A!6;p=Mlajxa6Mjgfd6lkRnKN/^D ; txcArajxa9U6ass=p43iagu/llllFa1udUla1rdlp16441y2Ad8iu="l6aEat0Yrjss-oQ sm tMgdtass'tMgdtass'tMgdtass0sapA4igEycle4"arkl>"EyP-eMcshul6/20ss-eMcsk_-TTlCi/ su6teggi;ldtass=el-> IrQ IrQSe IrQ IrQSe-slodli4T6inhs4i__,/,2hsk ffi>A3niapullPlh56c5/ eMc 0XOPULER 5bAbil tiX&l}a LER TkRnKN/^D ; txcArajxa6aMP-eMc 0X eMntasoi xPd4^D gtQ_late">15/06/2023, x> 'halhrw+kt,0}jha>15/06/2023, x>BC-ritgegac2uuusS11KTg.p=n3; tpAs " ; rQSi, cs lpdddddddddddddrL\Pd4^,">[POPULER 6llll7E[eras+gfd'i4Tse!6;e"2lwaggggA{o1PsrklaDihUuN,v4asc5/dj0n_*C3gapAdrdamfa4UKEyn2e!6;e"2lwaggggA{o1PsrklaDihUuN,v4asc5/dj0n_*C3gapAdrdamfa4UKEyn2e!6;e"2lwaggggA{o1Psr
Kemudian harga gula pasir premium Rp15.950 per kg, atau harganya tetap. Begitu juga gula pasir lokal Rp14.550 per kg. Harga Minyak goreng curah pada hari ini tetap di Rp15.300 per kg, minyak goreng kemasan 2 Rp22.100 per kg, turun 0,67 persen dan kemasan 1 Rp23.750, turun 0,23 persen. Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News. Harga tandan buah segar TBS kelapa sawit di Kalimantan Barat saat ini melambung tinggi. Petani kelapa sawit menjadi satu dari sedikit golongan yang imun dari gejolak sosial ekonomi pandemi Inklusi sosial provinsi ini menunjukkan perbaikan, ditandai meningkatnya kesejahteraan petani dan turunnya angka pengangguran di pedesaan. Program B30 menjadi muasalnya. SEPERTI petani kelapa sawit lainnya, Julianto 30 merasakan dua tahun ini menjadi periode yang membahagiakan. Harga tandan buah segar melonjak tinggi dari di seribuan rupiah per kilogram di tahun 2019, hingga kini nyaris menyentuh angka tiga ribu rupiah pada tahun ini.”Walaupun ada pandemi Covid-19, tapi harga sawit naik terus. Ini membuat kami petani di kampung lumayan terbantu,” sebut dia. Aktivitas petani asal Desa Tebedak, Kabupaten Landak ini di kebun miliknya yang sekira dua hektare lebih dari cukup untuk kebutuhan sehari-hari. “Saya bisa membeli kendaraan dan bisa menabung untuk persiapan biaya sekolah anak saya nanti. Saya tidak mau anak saya hanya tamat SMP seperti saya,” ujarnya. Sebagai tamatan pendidikan rendah, Julianto sedari remaja sudah menjadi karyawan perusahan sawit di desanya. Sejak kecil dia sudah yatim piatu dan harus menghidupi dirinya sendiri. “Hanya perusahaan sawit yang mau menerima tamatan SMP seperti saya. Puji Tuhan, dari tabungan hasil upah bisa saya belikan tanah. Walaupun agak jauh lokasinya tapi bisa dikelola,” sebut ayah satu anak ini. Infografis Kuswadi, petani sawit asal Desa Binjai Hulu, Kabupaten Sintang juga menyebut kelapa sawit menjadi primadona masyarakat. “Kami berharap harga TBS saat ini bisa bertahan, bahkan naik lagi. Karena sekarang anak-anak muda mulai senang bertani dan tidak gengsi karena hasilnya menguntungkan,” ucapnya kepada Pontianak Post beberapa waktu lalu. Sawit sendiri sudah lekat dengan sebagian warga di sana. Dia menceritakan dinamika ekonomi yang dilalui di desa tersebut, dimana pada tahun 1980-an kegiatan tambang emas ilegal marak di Kalbar. Warga yang awalnya petani beralih menjadi buruh tambang, walaupun harus dihantui razia aparat hingga risiko kematian tertimbun longsoran tanah. “Hasil tani dulu tak menjanjikan karena kami belum kenal teknologi dan sistem pemupukannya masih tradisional, jadi larinya ke tambang,” tukasnya. Namun ternyata, menjadi buruh tambang pun tak mencukupi kebutuhan masyarakat sehari hari. Hingga pada akhir dekade 1990an, perusahan sawit masuk kesana. Warga pun berbondong-bondong membangun kebun plasma dan menjadi mitra perusahaan. Banyak pula yang menjadi karyawan di perusahaan, mulai dari tukang pancang, tukang tanam, mandor, dan lain-lain. “Sampai sekarang kami tak pernah pindah pekerjaan. Karena hasilnya bisa untuk membangun rumah dan menyekolahkan anak. Apalagi harga TBS sedang tinggi,” tutur pria paruh baya ini. Harga TBS sendiri terus meroket dan mencapai rekor tertinggi tahun ini. Kepala Dinas Perkebunan Kalbar, Munsif mengatakan, pada periode II Oktober 2021 harga TBS mencapai per kilogram, sementara minyak mentah sawit atau CPO harganya per kilogram. Sedangkan untuk inti sawit atau PK sudah mencapai per kilogram. Infografis TBS dan NTP Bandingkan dengan dua tahun belakangan. Pada Oktober tahun 2019, harga TBS Kalbar hanya per kilogram. Lalu pada bulan yang sama tahun lalu naik menjadi per kilogram. Hingga kini hampir menyentuh untuk berat yang sama. Kesejahteraan petani pun meningkat. Badan Pusat Statistik mencatat, Nilai Tukar Petani Perkebunan Kalbar naik signifikan sejak tahun 2019. Pada Oktober tahun 2018 hanya mencapai 95,50 poin. Lalu pada periode yang sama tahun berikutnya naik menjadi 103,81. Di tahun 2020 yang menjadi tahun pandemi Covid 19, di bulan yang sama malahan melonjak jadi 120,63 poin. Puncaknya pada Oktober 2021 kesejahteraan petani perkebunan Kalbar tembus rekor tertinggi sepanjang sejarah yaitu 161,02 poin. Bandingkan dengan NTP Gabungan Kalbar yang hanya’ 131,63 poin. Data kemiskinan Kalbar dari BPS juga menunjukkan penduduk miskin di pedesaan turun dalam empat tahun terakhir. Dari pengambilan sampel bulan Maret, pada tahun 2018 penduduk miskin di desa-desa di Kalbar mencapai 9,16 persen. Namun saat harga sawit mulai naik pada 2019, warga miskin di pedesaan turun drastis ke 7,49 persen. Namun pandemi membuat angkanya naik lagi ke 8,50 persen pada tahun 2020. Hingga kemudian kemiskinan penduduk desa di provinsi ini turun tajam ke angka 7,15 persen. Ekonom Universitas Tanjungpura Prof Dr Eddy Suratman menyebut, kenaikan harga sawit telah menyelamatkan ekonomi provinsi ini pada dua tahun era kelam pandemi. Dia mencontohkan, pertumbuhan ekonomi Triwulan II tahun 2021, Kalbar mampu tumbuh 10,81 persen. Sedangkan angka nasional hanya 7,07 persen. “Ini ditopang meningkatnya ekspor, terutama dari komoditas kelapa sawit naik, sehingga Kalbar ekonominya bisa tumbuh. Bahkan kesejahteraan petani kita yang diukur dari Nilai Tukar Petani mengalami kenaikan yang signifikan,” paparnya. Biosolar jadi Jawaban Naiknya harga komoditas kelapa sawit kental dipengaruhi energi hijau pemerintah. Dimana Presiden Joko Widodo memberikan mandat kepada PT Pertamina Persero untuk program B30. Program untuk mengadakan BBM bersubsidi Solar dari campuran 30 persen fatty acid methyl ester FAME dan 70 persen solar. Ketua Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia Gapki Kalbar, Purwati Munawir menyebut, sejak program ini diluncurkan harga CPO terus menanjak. Berdasarkan data Gapki, pada 2017, produk minyak sawit yang diserap untuk biosolar sebesar 20,1%. Lalu pada tahun 2018, naik menjadi 28,3%. Kemudian naik tinggi ada 2019 dimana peruntukan ke biosolar mencapai 34,8%. Selanjutnya pada pada tahun lalu permintaan minyak kelapa sawit dari industri biosolar telah mencapai 41,7%, mendekati kebutuhan untuk pangan yang sebesar 48,6%. “Apresiasi untuk Pemerintah yang bisa mengakomodir CPO menjadi biosolar sekaligus meningkatkan energi dan ekonomi. Saat ini kenaikan harga TBS bisa dinikmati,’ sebutnya. Ketua Harian Asosiasi Produsen Biodiesel Indonesia Aprobi Paulus Tjakrawan saat acara Journalist Fellowship and Training Batch II 2021 Wilayah Kalimantan yang diselenggarakan Badan Penghimpun Dana Perkebunan Kelapa Sawit yang diikuti Pontianak Post secara virtual, Sabtu 13/11, menyebut B30 menjawab sejumlah Dari aspek keekonomian, implementasi program biodiesel dapat menghemat devisa dan membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat. “Terutama dari bahan baku yang berasal dari sawit Hal ini membuat harga sawit melonjak seperti sekarang Tentu saja harga ini dinikmati oleh para petani sawit kita, termasuk di Kalimantan Selain itu anggaran untuk impor minyak dapat dialihkan untuk program pengentasan kemiskinan, pendidikan, dan infrastruktur,” ujarnya. Terlebih ketahanan energi saat ini menjadi salah satu isu terpenting. “Sejak 2004 kita resmi menjadi negara pengimpor minyak, setelah lifting dan produksi minyak dalam negeri tak mampu Sementara untuk menjadi negara maju atau negara industri, konsumsi BBM kita harus tinggi. Makanya penting untuk mencari sumber energi selain minyak fosil yang menguras devisa negara. Dengan B30 tahun lalu kita pada 2020, bisa menghemat devisa negara 50 triliun rupiah,” kata Paulus. Praktisi biodiesel, Prof Dr Thamrin Usman DEA, menyebut biosolar adalah solusi untuk tiga masalah sekaligus, yaitu ketahanan energi dan tuntutan energi hijau, serta penciptaan lapangan kerja. Pada aspek lingkungan hidup, biosolar memiliki sifat biodegradable yang tidak beracun dan diproduksi dari tanaman yang berkesinambungan. Emisi gas rumah kaca yang dihasilkan juga lebih kecil. Sedangkan dari sisi ketahanan energi, ketergantungan terhadap impor bahan bakar fosil bisa dikurangi. B30 juga berhasil menghemat devisa dan membuka lapangan pekerjaan baru. “Menjadikan biodiesel sebagai ketahanan energi di Indonesia sangatlah menjanjikan karena bahan baku tersedia secara masif, ekonomis, dapat diperbarui, ramah lingkungan dan berada dalam zona ekuatorial dengan pancaran sinar matahari sepanjang tahun. Biodiesel dari Senyawa Turunan Minyak Sawit dengan bauran 30% B30 hingga kelak D100 100 persen nabati memberikan dampak yang luar biasa,” sebutnya. Sementara itu dalam keterangan resminya, Direktur Utama Pertamina, Nicke Widyawati mengatakan B30 membuat pihaknya berhasil mengurangi impor BBM. “Bahkan mulai April 2019, Pertamina sudah tidak lagi mengimpor BBM jenis solar,” jelasnya. Menurutnya, penerapan program B30 tak hanya akan mengurangi impor BBM, tapi juga akan menghemat devisa negara. Saat ini terdapat SPBU di Indonesia sudah menyalurkan BBM jenis B30. Realisasi penyerapan pada tahun 2020 mencapai 89% yaitu 7,14 juta KL dari alokasi sebesar juta KL. Pada tahun 2021, sesuai Kepmen ESDM 252/2020 Pertamina mendapatkan alokasi untuk menyerap biodiesel/FAME sebesar 7,81 juta ars Harga tandan buah segar TBS kelapa sawit di Kalimantan Barat saat ini melambung tinggi. Petani kelapa sawit menjadi satu dari sedikit golongan yang imun dari gejolak sosial ekonomi pandemi Inklusi sosial provinsi ini menunjukkan perbaikan, ditandai meningkatnya kesejahteraan petani dan turunnya angka pengangguran di pedesaan. Program B30 menjadi muasalnya. SEPERTI petani kelapa sawit lainnya, Julianto 30 merasakan dua tahun ini menjadi periode yang membahagiakan. Harga tandan buah segar melonjak tinggi dari di seribuan rupiah per kilogram di tahun 2019, hingga kini nyaris menyentuh angka tiga ribu rupiah pada tahun ini.”Walaupun ada pandemi Covid-19, tapi harga sawit naik terus. Ini membuat kami petani di kampung lumayan terbantu,” sebut dia. Aktivitas petani asal Desa Tebedak, Kabupaten Landak ini di kebun miliknya yang sekira dua hektare lebih dari cukup untuk kebutuhan sehari-hari. “Saya bisa membeli kendaraan dan bisa menabung untuk persiapan biaya sekolah anak saya nanti. Saya tidak mau anak saya hanya tamat SMP seperti saya,” ujarnya. Sebagai tamatan pendidikan rendah, Julianto sedari remaja sudah menjadi karyawan perusahan sawit di desanya. Sejak kecil dia sudah yatim piatu dan harus menghidupi dirinya sendiri. “Hanya perusahaan sawit yang mau menerima tamatan SMP seperti saya. Puji Tuhan, dari tabungan hasil upah bisa saya belikan tanah. Walaupun agak jauh lokasinya tapi bisa dikelola,” sebut ayah satu anak ini. Infografis Kuswadi, petani sawit asal Desa Binjai Hulu, Kabupaten Sintang juga menyebut kelapa sawit menjadi primadona masyarakat. “Kami berharap harga TBS saat ini bisa bertahan, bahkan naik lagi. Karena sekarang anak-anak muda mulai senang bertani dan tidak gengsi karena hasilnya menguntungkan,” ucapnya kepada Pontianak Post beberapa waktu lalu. Sawit sendiri sudah lekat dengan sebagian warga di sana. Dia menceritakan dinamika ekonomi yang dilalui di desa tersebut, dimana pada tahun 1980-an kegiatan tambang emas ilegal marak di Kalbar. Warga yang awalnya petani beralih menjadi buruh tambang, walaupun harus dihantui razia aparat hingga risiko kematian tertimbun longsoran tanah. “Hasil tani dulu tak menjanjikan karena kami belum kenal teknologi dan sistem pemupukannya masih tradisional, jadi larinya ke tambang,” tukasnya. Namun ternyata, menjadi buruh tambang pun tak mencukupi kebutuhan masyarakat sehari hari. Hingga pada akhir dekade 1990an, perusahan sawit masuk kesana. Warga pun berbondong-bondong membangun kebun plasma dan menjadi mitra perusahaan. Banyak pula yang menjadi karyawan di perusahaan, mulai dari tukang pancang, tukang tanam, mandor, dan lain-lain. “Sampai sekarang kami tak pernah pindah pekerjaan. Karena hasilnya bisa untuk membangun rumah dan menyekolahkan anak. Apalagi harga TBS sedang tinggi,” tutur pria paruh baya ini. Harga TBS sendiri terus meroket dan mencapai rekor tertinggi tahun ini. Kepala Dinas Perkebunan Kalbar, Munsif mengatakan, pada periode II Oktober 2021 harga TBS mencapai per kilogram, sementara minyak mentah sawit atau CPO harganya per kilogram. Sedangkan untuk inti sawit atau PK sudah mencapai per kilogram. Infografis TBS dan NTP Bandingkan dengan dua tahun belakangan. Pada Oktober tahun 2019, harga TBS Kalbar hanya per kilogram. Lalu pada bulan yang sama tahun lalu naik menjadi per kilogram. Hingga kini hampir menyentuh untuk berat yang sama. Kesejahteraan petani pun meningkat. Badan Pusat Statistik mencatat, Nilai Tukar Petani Perkebunan Kalbar naik signifikan sejak tahun 2019. Pada Oktober tahun 2018 hanya mencapai 95,50 poin. Lalu pada periode yang sama tahun berikutnya naik menjadi 103,81. Di tahun 2020 yang menjadi tahun pandemi Covid 19, di bulan yang sama malahan melonjak jadi 120,63 poin. Puncaknya pada Oktober 2021 kesejahteraan petani perkebunan Kalbar tembus rekor tertinggi sepanjang sejarah yaitu 161,02 poin. Bandingkan dengan NTP Gabungan Kalbar yang hanya’ 131,63 poin. Data kemiskinan Kalbar dari BPS juga menunjukkan penduduk miskin di pedesaan turun dalam empat tahun terakhir. Dari pengambilan sampel bulan Maret, pada tahun 2018 penduduk miskin di desa-desa di Kalbar mencapai 9,16 persen. Namun saat harga sawit mulai naik pada 2019, warga miskin di pedesaan turun drastis ke 7,49 persen. Namun pandemi membuat angkanya naik lagi ke 8,50 persen pada tahun 2020. Hingga kemudian kemiskinan penduduk desa di provinsi ini turun tajam ke angka 7,15 persen. Ekonom Universitas Tanjungpura Prof Dr Eddy Suratman menyebut, kenaikan harga sawit telah menyelamatkan ekonomi provinsi ini pada dua tahun era kelam pandemi. Dia mencontohkan, pertumbuhan ekonomi Triwulan II tahun 2021, Kalbar mampu tumbuh 10,81 persen. Sedangkan angka nasional hanya 7,07 persen. “Ini ditopang meningkatnya ekspor, terutama dari komoditas kelapa sawit naik, sehingga Kalbar ekonominya bisa tumbuh. Bahkan kesejahteraan petani kita yang diukur dari Nilai Tukar Petani mengalami kenaikan yang signifikan,” paparnya. Biosolar jadi Jawaban Naiknya harga komoditas kelapa sawit kental dipengaruhi energi hijau pemerintah. Dimana Presiden Joko Widodo memberikan mandat kepada PT Pertamina Persero untuk program B30. Program untuk mengadakan BBM bersubsidi Solar dari campuran 30 persen fatty acid methyl ester FAME dan 70 persen solar. Ketua Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia Gapki Kalbar, Purwati Munawir menyebut, sejak program ini diluncurkan harga CPO terus menanjak. Berdasarkan data Gapki, pada 2017, produk minyak sawit yang diserap untuk biosolar sebesar 20,1%. Lalu pada tahun 2018, naik menjadi 28,3%. Kemudian naik tinggi ada 2019 dimana peruntukan ke biosolar mencapai 34,8%. Selanjutnya pada pada tahun lalu permintaan minyak kelapa sawit dari industri biosolar telah mencapai 41,7%, mendekati kebutuhan untuk pangan yang sebesar 48,6%. “Apresiasi untuk Pemerintah yang bisa mengakomodir CPO menjadi biosolar sekaligus meningkatkan energi dan ekonomi. Saat ini kenaikan harga TBS bisa dinikmati,’ sebutnya. Ketua Harian Asosiasi Produsen Biodiesel Indonesia Aprobi Paulus Tjakrawan saat acara Journalist Fellowship and Training Batch II 2021 Wilayah Kalimantan yang diselenggarakan Badan Penghimpun Dana Perkebunan Kelapa Sawit yang diikuti Pontianak Post secara virtual, Sabtu 13/11, menyebut B30 menjawab sejumlah Dari aspek keekonomian, implementasi program biodiesel dapat menghemat devisa dan membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat. “Terutama dari bahan baku yang berasal dari sawit Hal ini membuat harga sawit melonjak seperti sekarang Tentu saja harga ini dinikmati oleh para petani sawit kita, termasuk di Kalimantan Selain itu anggaran untuk impor minyak dapat dialihkan untuk program pengentasan kemiskinan, pendidikan, dan infrastruktur,” ujarnya. Terlebih ketahanan energi saat ini menjadi salah satu isu terpenting. “Sejak 2004 kita resmi menjadi negara pengimpor minyak, setelah lifting dan produksi minyak dalam negeri tak mampu Sementara untuk menjadi negara maju atau negara industri, konsumsi BBM kita harus tinggi. Makanya penting untuk mencari sumber energi selain minyak fosil yang menguras devisa negara. Dengan B30 tahun lalu kita pada 2020, bisa menghemat devisa negara 50 triliun rupiah,” kata Paulus. Praktisi biodiesel, Prof Dr Thamrin Usman DEA, menyebut biosolar adalah solusi untuk tiga masalah sekaligus, yaitu ketahanan energi dan tuntutan energi hijau, serta penciptaan lapangan kerja. Pada aspek lingkungan hidup, biosolar memiliki sifat biodegradable yang tidak beracun dan diproduksi dari tanaman yang berkesinambungan. Emisi gas rumah kaca yang dihasilkan juga lebih kecil. Sedangkan dari sisi ketahanan energi, ketergantungan terhadap impor bahan bakar fosil bisa dikurangi. B30 juga berhasil menghemat devisa dan membuka lapangan pekerjaan baru. “Menjadikan biodiesel sebagai ketahanan energi di Indonesia sangatlah menjanjikan karena bahan baku tersedia secara masif, ekonomis, dapat diperbarui, ramah lingkungan dan berada dalam zona ekuatorial dengan pancaran sinar matahari sepanjang tahun. Biodiesel dari Senyawa Turunan Minyak Sawit dengan bauran 30% B30 hingga kelak D100 100 persen nabati memberikan dampak yang luar biasa,” sebutnya. Sementara itu dalam keterangan resminya, Direktur Utama Pertamina, Nicke Widyawati mengatakan B30 membuat pihaknya berhasil mengurangi impor BBM. “Bahkan mulai April 2019, Pertamina sudah tidak lagi mengimpor BBM jenis solar,” jelasnya. Menurutnya, penerapan program B30 tak hanya akan mengurangi impor BBM, tapi juga akan menghemat devisa negara. Saat ini terdapat SPBU di Indonesia sudah menyalurkan BBM jenis B30. Realisasi penyerapan pada tahun 2020 mencapai 89% yaitu 7,14 juta KL dari alokasi sebesar juta KL. Pada tahun 2021, sesuai Kepmen ESDM 252/2020 Pertamina mendapatkan alokasi untuk menyerap biodiesel/FAME sebesar 7,81 juta ars lxlyi.
  • qrt00srxqv.pages.dev/353
  • qrt00srxqv.pages.dev/474
  • qrt00srxqv.pages.dev/232
  • qrt00srxqv.pages.dev/90
  • qrt00srxqv.pages.dev/136
  • qrt00srxqv.pages.dev/338
  • qrt00srxqv.pages.dev/358
  • qrt00srxqv.pages.dev/461
  • harga sawit kalbar hari ini